March 18, 2013

Don't Judge A Book By Its Cover

18.03.2013

Sesuatu yang tampak dari luar memang sangat mudah untuk dijadikan acuan sudut pandang seseorang. Quote ini klasik, tapi benar adanya. Manusia diciptakan dengan sepasang mata yang dapat berkoordinasi dengan sempurna terhadap otak. Apa yang mata kita lihat, dalam sepersekian detik langsung diterjemahkan oleh otak menjadi persepsi. Simpelnya, saat kita melihat makanan, otak berpikir "ENAK!", saat kita melihat sampah, otak berpikir "JOROK!", dll. Secara teori kurang lebih begitu, tapi sayangnya otak manusia terkadang menilai terlalu cepat, sehingga menghasilkan persepsi yang kurang tepat (atau bahkan salah!). Seperti yang sering terjadi saat kita menilai orang lain.

Jaman SMA dulu, seorang guru pernah melontarkan perkataan yang membuatku mengernyitkan kening. Perkataan Beliau 100% hanya berdasarkan pandangan matanya terhadap diriku. Bukan berdasarkan kenyataan. Karena Beliau sendiri sama sekali tidak mengenalku secara personal. Dengan penuh pembelaan diri, aku menyangkal perkataan Beliau. Otakmu berpikir terlalu cepat, Pak.

Jadi begini, aku ini terkenal sebagai orang yang suka teriak-teriak, berisik, banyak mau, ribet, dan sangat childish. Boleh coba tanya 10 orang, 9 dari mereka pasti akan menjawab semua karakteristik diatas. Suatu hari, saat pelajaran Calculus, tercetuslah kalimat seperti ini: "Jessica mah pasti anak manja, nanti kuliah mau jadi apa? Pasti kemana-mana minta dianterin. Gak bakal berani naik angkot dia mah..." Wow. Oke. Aku ingat apa yang kukatakan pada Beliau saat itu: "Jangan sembarangan, Pak. Mentang-mentang saya di kelas pecicilan begini, bukan berarti saya gak bisa hidup mandiri!" Aku tidak suka dengan cara orang menilaiku hanya dari luar. Hanya karena aku bersikap ceria dan heboh, bukan berarti aku anak manja yang tak bisa diandalkan. 

Kalau sekarang aku bertemu dengan Beliau, kira-kira beginilah yang akan kukatakan kepadanya:

"Pak. 4 tahun saya kuliah, saya selalu pulang-pergi naik angkot. Dari rumah, naik angkot merah ke jalan raya. Dari jalan raya, naik angkot biru ke pertigaan. Dari pertigaan, naik bis kopaja sampai depan kampus. Saya pernah (sering!) nangis di angkot gara-gara dicopet HP, digodain om-om bejat, ditipu bapak-bapak yang pura-pura sakit ayan, dll. Saya juga pernah nangis gara-gara patah hati, diliatin sama seisi bis, bahkan ditawarin tissue sama abangnya. Saya juga pernah dimarahin abang kenek, pernah ketiduran dan nyasar, pernah kehujanan & gak bawa payung sampai akhirnya saya ikut abang angkotnya jalan-jalan muterin rute dia sambil nunggu hujan berenti. Sekarang, saya kerja. Saya juga naik angkot, Pak. Rutenya sama. Cuma beda arah dari pertigaan. Saya bisa naik angkot. Saya nggak manja. Saya bisa mandiri. Kemana-mana sendiri, ga bergantung sama mobil. Capiche?"


2 comments:

Anonymous said...

Iya deh.. bapak salah. bapak telah salah menilai kamu..

hehehe :D

-kijang-

Jessica Grace Wibowo said...

Hahahaha Upiiii! Lu pasti tau siapa Bapak yg gw maksud. LOL. Gw ga lagi marah ini sebenernya, cuma lagi keingetan aja dulu si Bapak bahas-bahas angkot. Hahahahaa. Gw sekarang udah jadi anak angkot beneran :p