March 26, 2013

March 18, 2013

Don't Judge A Book By Its Cover

18.03.2013

Sesuatu yang tampak dari luar memang sangat mudah untuk dijadikan acuan sudut pandang seseorang. Quote ini klasik, tapi benar adanya. Manusia diciptakan dengan sepasang mata yang dapat berkoordinasi dengan sempurna terhadap otak. Apa yang mata kita lihat, dalam sepersekian detik langsung diterjemahkan oleh otak menjadi persepsi. Simpelnya, saat kita melihat makanan, otak berpikir "ENAK!", saat kita melihat sampah, otak berpikir "JOROK!", dll. Secara teori kurang lebih begitu, tapi sayangnya otak manusia terkadang menilai terlalu cepat, sehingga menghasilkan persepsi yang kurang tepat (atau bahkan salah!). Seperti yang sering terjadi saat kita menilai orang lain.

Jaman SMA dulu, seorang guru pernah melontarkan perkataan yang membuatku mengernyitkan kening. Perkataan Beliau 100% hanya berdasarkan pandangan matanya terhadap diriku. Bukan berdasarkan kenyataan. Karena Beliau sendiri sama sekali tidak mengenalku secara personal. Dengan penuh pembelaan diri, aku menyangkal perkataan Beliau. Otakmu berpikir terlalu cepat, Pak.

Jadi begini, aku ini terkenal sebagai orang yang suka teriak-teriak, berisik, banyak mau, ribet, dan sangat childish. Boleh coba tanya 10 orang, 9 dari mereka pasti akan menjawab semua karakteristik diatas. Suatu hari, saat pelajaran Calculus, tercetuslah kalimat seperti ini: "Jessica mah pasti anak manja, nanti kuliah mau jadi apa? Pasti kemana-mana minta dianterin. Gak bakal berani naik angkot dia mah..." Wow. Oke. Aku ingat apa yang kukatakan pada Beliau saat itu: "Jangan sembarangan, Pak. Mentang-mentang saya di kelas pecicilan begini, bukan berarti saya gak bisa hidup mandiri!" Aku tidak suka dengan cara orang menilaiku hanya dari luar. Hanya karena aku bersikap ceria dan heboh, bukan berarti aku anak manja yang tak bisa diandalkan. 

Kalau sekarang aku bertemu dengan Beliau, kira-kira beginilah yang akan kukatakan kepadanya:

"Pak. 4 tahun saya kuliah, saya selalu pulang-pergi naik angkot. Dari rumah, naik angkot merah ke jalan raya. Dari jalan raya, naik angkot biru ke pertigaan. Dari pertigaan, naik bis kopaja sampai depan kampus. Saya pernah (sering!) nangis di angkot gara-gara dicopet HP, digodain om-om bejat, ditipu bapak-bapak yang pura-pura sakit ayan, dll. Saya juga pernah nangis gara-gara patah hati, diliatin sama seisi bis, bahkan ditawarin tissue sama abangnya. Saya juga pernah dimarahin abang kenek, pernah ketiduran dan nyasar, pernah kehujanan & gak bawa payung sampai akhirnya saya ikut abang angkotnya jalan-jalan muterin rute dia sambil nunggu hujan berenti. Sekarang, saya kerja. Saya juga naik angkot, Pak. Rutenya sama. Cuma beda arah dari pertigaan. Saya bisa naik angkot. Saya nggak manja. Saya bisa mandiri. Kemana-mana sendiri, ga bergantung sama mobil. Capiche?"


March 6, 2013

Salah siapa?

Kamu bilang aku posesif.
Salah siapa kamu sering hilang tanpa kabar?

Kamu bilang aku pencemburu.
Salah siapa kamu sering berbalas pesan dengan wanita-wanita lain?

Kamu bilang aku terlalu banyak menuntut.
Salah siapa kamu tidak pernah tau apa yang kumau?

Kamu bilang aku pencuriga.
Salah siapa kamu selalu menyembunyikan HP dan menghapus chat history?

Kamu bilang aku pemarah.
Salah siapa kamu sering hilang tanpa kabar, sering berbalas pesan dengan wanita-wanita lain, tidak pernah tau apa yang kumau, selalu menyembunyikan HP, dan menghapus chat history?

Kamu bilang aku egois. Iya, aku egois.
Salah siapa? Salah kamu. Karena membuatku terlalu jatuh cinta. Cintaku memang egois. Aku hanya ingin kamu. Sebagaimana aku berharap kamupun hanya ingin aku.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

March 5, 2013

Mr. Right

"There's no way you can love without getting hurt. Love is pain."

I tweeted something like this at @jejesmarijes several days ago. It really strikes me hard and it got me thinking all night long. Does love really hurt? Is loving really a pain? Kalau cinta memang begitu menyakitkan, lantas kenapa orang masih mendamba-dambakannya?

Kemarin aku ngobrol banyak dengan seorang teman. Kami curhat-curhatan soal love story masing-masing. Aku yang (selalu) galau masalah ketidakpastian, dan dia yang galau karena cowok gebetannya bolak-balik ngasih tanda yang kayak lampu lalu-lintas rusak--sebentar merah, sebentar hijau, sebentar kuning, so unpredictable! Bisa dibilang kami berdua ini sama-sama tipe cewek yang too mellow dan hopelessly romantic. Kalau lagi nonton sinetron yang unyu-unyu gitu, bisa heboh lah kami berdua lewat BBM. "OMG JESS, ITU TADI SWEET BANGET YA!" "IYA IH! GILA MAU BANGET YA PUNYA COWOK KAYAK GITU!" Hahaha. Kira-kira begitulah percakapan kami pada umumnya. Selain itu, kami juga sama-sama tipe cewek yang rentan galau. Satu galau, satunya biasanya galau juga. Ya, seperti kemarin ini. Singkat cerita, setelah bercurhat ria panjang lebar, kami berdua sampai pada satu kesimpulan yang bisa menjawab pertanyaan utama di atas. 

If being in love hurts you, then it's not love.
If loving someone is a pain, then you're loving the wrong person.
Love is about finding the right one.

Terkadang mencintai (dan dicintai) memang bikin kita sakit hati. Giving part of our heart to other, letting him to take control of it, I can assure you it's not easy. You might fall some times, several times, many times. Mungkin kami hanya belum menemukan orang yang tepat :')

Xoxo, J.

March 3, 2013

CRAP!

28.02.2013

Ternyata apa yang orang bilang itu benar, sesuatu baru terasa berharga saat kita udah kehilangan. Gila, baru kali ini gw ngerasain betapa nikmat dan berharganya waktu yang gw miliki untuk TIDUR! Semenjak gw mulai kerja, kira-kira sebulan yang lalu, gw mulai menyadari bahwa 5 menit tidur pun berharga. I'm not a morning person, definitely will never be one. Gw selalu tidur subuh, dengan alasan males tidur, walaupun nggak ada hal yang bisa dikerjain juga sih. Ga ada tuh yang namanya tidur kalau belum jam 5 subuh. Hahaha.  Dang! Kalau aja gw tau capeknya kerja tuh kayak gini, gw bakal nabung tidur yang banyak dari dulu ;(
Sekarang, jam 10 malem gw udah masuk selimut, biarlah jadi kayak anak bayi. Yang penting TIDOOOORRRRRR!!!!! Kerja itu capek, capeknya najis banget. Walaupun kerjaan nggak banyak, tapi capeknya itu bener-bener nggak ada obat. Baru sebulan, gw udah merasa pengen teriak "SHIT THIS IS REAL LIFE! BANGUN JAM 7, PULANG JAM 8, FOREVER. SELAMANYA. SAMPAI MATIKKKK!" Crap. Double crap. Triple crap. *I wish I could be forever young ;(*