November 5, 2012

Hujan



Part 1

Tes... Setitik tetesan air jatuh tepat di samping pipiku. Tes... Rintik-rintik lain mulai menyusul tetesan pertama itu, jatuh perlahan. Aku tertegun. Tidak lama, karena detik selanjutnya aku sudah mengangkat wajahku dan tersenyum sendu. Hujan. Tampaknya perjalanan kali ini akan menjadi sesuatu. Kuarahkan jari telunjukku ke arah butiran-butiran air yang semakin banyak, mereka terus mengalir membentuk garis liku-liku panjang yang meninggalkan jejak basah pada kaca mobil. Dapat kurasakan suasana di mobil berubah dalam sekejap. Ayah yang menggerutu di balik kemudi, Ibu yang mencemaskan jemuran di rumah, adik yang tak jelas mengeluhkan apa, dan aku...... Aku terdiam menatap handphone yang tak kunjung berdering, lalu memutuskan untuk menyalakan iPod dan larut dalam hujan yang sudah lama tak membasahi kota Jakarta.

Hujan adalah bagian dari hidupku. Sebagian dari diriku adalah hujan. Katanya, hujan itu dapat memicu emosi serta menimbulkan efek melankolis. Aku tak tahu pasti. Bagiku, hujan adalah fenomena alam terindah yang pernah tercipta. Aku dijuluki ‘Si Gadis Hujan’ oleh beberapa teman dekatku. Mereka akan dengan mudahnya teringat padaku setiap hujan turun. Seperti sekarang ini, seorang sahabatku mengirimkan mention singkat di Twitter. Isinya: “Ujan nih, pasti lu suka. Jangan galau ya! Haha.” Lalu biasanya beberapa teman lain akan dengan senang hati me-ReTweetnya. Aku sering mengira-ngira, mungkin di hari kelahiranku 21 tahun yang lalu, ibu melahirkanku di tengah hujan lebat. Atau mungkin aku adalah titisan dari Dewi Hujan?  Entahlah, hanya imajinasiku semata. 

Perjalanan menuju restoran terasa sangat lama. Mungkin karena otakku cenderung berpikir lebih keras saat hujan turun. Kutatap handphone yang basah karena keringat dari telapak tanganku sambil menghela nafas panjang. Entah sudah yang keberapa kalinya dalam 15 menit ini. Jantung berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Perut bergejolak tanpa henti. Mendadak aku panas dingin. Mengapa hujan harus turun hari ini? Aku merasa ini konspirasi langit terhadap diriku. Awan-awan sangat paham akan suasana hatiku saat ini, oleh sebab itulah langit mengirimkan hujan. Sekali lagi kuarahkan tanganku dan bermain dengan goresan jalur-jalur air yang tampak bergesekan dari dalam mobil. Kemudian kuputuskan untuk mematikan handphone dan memejamkan mata sampai di tempat tujuan.

***