July 9, 2010

Kesempatan kedua.

Selasa, 6 Juli 2010

Butuh sedetik untuk menghancurkan kepercayaan orang pada kita, dan selamanya untuk mengembalikannya.

Jaman dulu, aku suka sekali mengkotak-kotakkan orang-orang di sekitarku. Aku suka mengkategorikan mereka semua. Biasanya kategori itu berkisar sekitar 'orang kesayangan', 'orang yg aku tak bisa hidup tanpa', 'orang yg kuhargai', yah begitu-begitulah.

Sekarang aku sadar, biasanya orang-orang yg ada di listku itu selalu orang yg sama, orangnya itu-itu melulu ! Kenapa ya ? Apa aku kurang bergaul ? Rasanya nggak juga deh. Setelah berpikir-pikir, sekarang aku tahu, aku memasang standar terlalu tinggi pada orang-orang lain untuk mereka bisa masuk ke listku. Kenapa standar yg kutetapkan bisa sebegitu tingginya ? Jawabannya satu : karena aku nggak mau dikecewain.

Aku pernah dikecewain banget sama sahabat terbaikku di SMA. Saat itu sepertinya seluruh pertahananku runtuh, aku nggak tau lagi harus percaya siapa dan aku yg saat itu memang lagi 'kerasukan' setan berontak pun malah semakin menjadi-jadi melihat kelakuan sahabatku yg memakanku secara terang-terangan. Ibaratnya, aku ditusuk pake golok, langsung tepat di jantung. Nggak pake pingsan, aku malah langsung mati. Aku jadi goyah dan bimbang, rasanya aku jadi seperti terombang-ambing nggak tau harus kemana. Tau kenapa ? Karena aku udah terlalu sayang, percaya, dan merasa mereka itu temen sejati yg nggak mungkin salah. Mereka itu mungkin udah kuanggep angel saat itu. Dan saat mereka segitu teganya ngecewain aku, aku langsung mati rasa. Jatuh ke titik paling bawah.

Tapi itu dulu, udah berapa tahun berlalu. Sekarang gimana ? Aku udah lupain masalah itu. Aku masih berteman sama mereka, walau udah nggak sedeket dulu. Rasanya seperti ada batasan imajiner yg selalu membatasi. Bukan cuma aku yg berpikir begini lho, mereka juga. Well at least aku pernah baca blog salah satu dari mereka yg bilang begitu. Rasanya kesempatan itu belum ada. Kesempatan kedua mungkin akan kuberikan. Tapi itu kapan ? Aku takut kalo denger kata SELAMANYA. Berapa lama sih selamanya ? Apa iya butuh selamanya untuk mengembalikan rasa percaya itu ? Bingung.

Dari sisi lain, ada seseorang yg bilang kalau aku udah menghancurkan kepercayaannya sama aku. Ini dalam konteks yg lain ya. Katanya dia nggak bisa lagi percaya dan nggak tau sampe kapan bisa percaya lagi. Pertanyaanku sekarang, kapan itu kapan ? Mungkin sama kayak kasus diatas, kesempatan itu belum ada. Kesempatan kedua memang MUNGKIN diberikan, hanya waktunya yg belum ada. Dan lagi, kapan itu kapan ? Berapa lama selamanya ? Bingung juga.

Sekarang, kalau aku disuruh bikin list kategori seperti dulu lagi, percaya nggak percaya, orang-orang yg bakal kutulis itu masih sama. Malah mungkin ada beberapa orang yg akan kuhapus dari list. Dan pastinya juga ada beberapa orang tambahan (anak Binus) yg akan kutulis. Tapi mostly pasti masih didominasi oleh orang-orang yg sama. Sampai kapan orang-orang itu akan ada di listku ? Kapankah aku bisa menambahkan puluhan atau bahkan ratusan orang baru ke list itu ? Sampai ada kepercayaan baru kah ? Sampai ada kesempatan kedua kah ? Aku tak tau. Bingung.

Hidup di dunia ini harus punya hati sekeras batu. Jangan terlalu percaya dan bergantung sama orang lain. Semuanya bisa mengecewakan. Apalagi orang terdekat yg lebih mengenal kita, merekalah yg biasanya calon paling mengecewakan. Cuma Tuhan yg nggak pernah ngecewain kita.

Sudahlah, nggak usah pusingin hal-hal beginian.
Jangan jadi Enrico yg hobi mikirin hal-hal mikro nggak penting :P *peace mas kalo baca*

Adios.
Cheers,
xoxo

No comments: